Indonesia telah lama dikenal sebagai negara yang hidup berdampingan dengan bencana. Dari Sabang hingga Merauke, hampir tidak ada wilayah yang sepenuhnya bebas dari bahaya alam. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan erosi pantai adalah bagian dari dinamika geologis dan ekologis yang melekat pada lanskap kepulauan ini. Negara Indonesia terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik, yang menempatkan wilayah tersebut di Cincin Api Pasifik. Cuaca tropis, yang membawa curah hujan tinggi, bersama dengan perubahan penggunaan lahan skala besar, mengakibatkan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi. Dalam beberapa tahun terakhir, tidak hanya terjadi lebih banyak bencana, tetapi juga menjadi lebih intens. Pola bencana ini, yang dulunya terjadi setiap lima atau sepuluh tahun, sekarang terjadi setiap tahun. Tanah longsor, yang dulunya merupakan kejadian langka, kini telah menjadi kejadian umum. Naiknya air perlahan-lahan menghancurkan lahan di daerah pesisir dan merenggut rumah-rumah serta membuat masa depan masyarakat menjadi tidak pasti.
Bumi ini ditinggali oleh berbagai bentuk makhluk hidup yang memiliki peran masing-masing untuk merawatnya, salah satunya bakteri. Untuk merawat ekosistem, kerja bersama selalu menjadi fondasi dasar dalam mencapai keberhasilan. Di dunia bakteri, sosio-mikrobiologi menjadi kunci komunikasi mikroba untuk melakukan kerja kolektif, yaitu Quorum sensing.
Di masa lampau bakteri diyakini sebagai makluk uniseluler yang bekerja secara sederhana. Namun fakta mengungkap kemampuan bakteri untuk bekerja secara kolektif untuk mencapai tujuan tertentu atau bertahan hidup. Quorum sensing merupakan proses komunikasi antar sel bakteri untuk melakukan koordinasi dalam melaksanakan perilaku kolektif. Istilah quorum sensing diambil dari istilah di dunia sosial politik yaitu aturan legislatif yang mensyaratkan jumlah minimum peserta (kuorum) yang hadir dalam suatu rapat supaya keputusan yang disepakati dapat diselesaikan atau dianggap sah.
Untuk pendaftaran, silahkan klik >> Form Pendaftaran
Kamis, 11 Desember 2025, Pusat Studi Lingkungan Hidup mengadakan Webinar Urun Rembug Manusia dan Lingkungan dengan tema “Ancaman Krisis Ekologi di Sebayang Pembangunan” yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Gedung Sugeng Martopo dan melalui Zoom Meeting serta live streaming Youtube.
Seminar dilaksanakan dalam dua sesi, Mendatangkan narasumber yang ahli di bidang Lingkungan dan sumber daya alam yaitu Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si selaku Kepala PSLH UGM periode 2024-2025, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, M.T selaku Guru Besar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Yogyakarta, Prof. Hitoshi Ushijima, Ph.D selaku Guru Besar Chuo University Tokyo Japan dan Dr. Suharman, M.Si selaku Ahli Senior AMDAL PSLH UGM, acara Webinar tersebut dimulai sejak pukul 13.00 WIB dan berlangsung selama kurang lebih 3 jam yang di moderatori oleh Dr. Wahyu Yun Santoso, S.H., M.Hum., LL.M..
Senin (11/08) Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM mengadakan pembukaan Pelatihan Penyusun Amdal Bauran Angkatan ke-92 yang dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus – 4 September 2025 yang dilaksanakan secara offline dan online dan merupakan Pelatihan Bauran pertama yang diadakan oleh PSLH UGM. Kegiatan pelatihan yang offline dilaksanakan di Ruang kelas lantai 3 PSLH UGM pada tanggal 19 Agustus – 4 September 2025 dan yang online secara Zoom Meeting pada tanggal 11-16 September 2025, pelatihan yang diikuti oleh 16 peserta yang berasal dari individu, instansi pemerintah dan non pemerintah serta dari perusahaan swasta dan dari berbagai wilayah, pelatihan tersebut dibuka oleh Kepala PSLH UGM yaitu Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si.
Rabu (13/08) Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM diminta sebagai Narasumber dalam acara Sosialisasi Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pengelolaan Limba B3) Usaha Jasa Pariwisata di Kota Yogyakarta yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta. DLH Kota Yogyakarta mengundang Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH UGM) yang diwakili oleh Bapak Dr. Deni Pranowo, M.Si selaku tenaga ahli dari PSLH UGM. Hal ini sebagai komitmen PSLH UGM dalam mewujudkan tujuan Sustainable Development Goals (SDG’s) ke SDGs ke-4, yaitu ‘Pendidikan Bermutu’ dalam hal ini melalui “Sosialisasi Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pengelolaan Limba B3) Usaha Jasa Pariwisata”.
Senin (4/08) Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM menyelenggarakan pelatihan Penyusunan UKL-UPL angkatan ke-57. Pelatihan tersebut dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting. Jumlah peserta dalam pelatihan ini ada 21 orang. Peserta yang mengikuti pelatihan ini berasal dari berbagai instansi pemerintahn, perusahaan swasta dan individu dari berbagai wilayah yang berbeda. Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si selaku Kepala PSLH UGM.
Pelatihan Penyusunan UKL-UPL ini terdapat beberapa materi yang diajarkan yaitu seperti pengertian, proses, dan manfaat UKL-UPL, dampak pada komponen kesehatan masyarakat, proses penapisan kegiatan wajib AMDAL, UKL-UPL dan SPPL serta kewenangan pemeriksaan UKL-UPL, dampak pada komponen biologi, sosekbud, transportasi, geofisikim dan hidrologi, pemeriksaan UKL-UPL, kemudian terdapat praktek penyusunan UKL-UPL, dan presentasi UKL-UPL.
