“Only One Earth” menjadi tema peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2022. Tema tersebut menjadi refleksi dan pengingat bagi seluruh manusia di bumi untuk menyadari bahwa kita hanya memiliki 1 bumi yang dapat dijadikan tempat tinggal. Bumi yang tanpa modifikasi teknologi sudah layak menjadi tempat tinggal seluruh makhluk, termasuk manusia. Namun demikian, seperti kata Mahatma Gandhi bahwa “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed”.
Artikel
Bagian 1: Tanpa Lebah, Kita Dalam Masalah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 20 Mei sebagai hari Lebah Sedunia (World Bee Day) melalui resolusi majelis umum PBB bernomor A/RES/72/211 tertanggal 20 Desember 2017. Pada tahun 2022 ini, The Food and Agriculture Organization (FAO) akan merayakan Hari Lebah Sedunia dengan tema “Bee Engaged: Celebrating the diversity of bees and beekeeping system”. Tanggal perayaan tersebut adalah hari kelahiran Anton Janša, seorang pelopor pemeliharaan lebah modern dalam tradisi perternakan lebah di Slovenia.[1]
Kasus COVID-19 berdasarkan data dari laman resmi World Health Organization (WHO) secara global sudah mengalami penurunan. Namun hal tersebut juga disertai dengan merebaknya virus penyebab penyakit lainnya yang tidak kalah penting untuk menjadi perhatian. Mulai dari virus penyebab hepatitis akut misterius yang banyak menyerang anak-anak hingga kembali merebaknya virus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak.
Permasalahan di bumi tidak berhenti pada penyebaran virus yang mengancam eksistensi manusia. Kondisi bumi yang semakin memanas juga diduga menjadi penyebab munculnya virus-virus misterius yang kini banyak menelan korban.
Tragedi kepunahan burung Passenger Pigeon atau Merpati Pengembara (sebangsa dengan Burung Dara) adalah pelajaran sekaligus refleksi dalam peringatan Hari Migrasi Burung Sedunia (World Migratory Bird Day/ WMBD) yang diperingati setiap bulan Mei dan Oktober, pada hari sabtu di minggu kedua. Kedua hari tersebut selaras dengan siklus migrasi burung. Burung menjadi makhluk di Bumi dengan mobilitas tertinggi, dimana dua kali setahun, di musim semi dan musim gugur, miliaran burung bermigrasi dalam jarak yang sangat jauh melintasi seluruh dunia.
Seri Konservasi: Duka Satwa di Bulan Ramadhan
Berita duka tentang kematian tiga ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) akibat terjerat tali baja (sling) di Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Aceh semakin menambah panjang daftar kematian satwa dilindungi di Provinsi Aceh. Sebelumnya di bulan agustus tahun 2021, Tiga harimau sumatera (1 ibu dan 2 anaknya) juga ditemukan mati di kawasan hutan Desa Ie Buboh, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan.[i] Pada tahun 2020, juga ditemukan seekor harimau yang tewas setelah memakan daging kambing yang telah dilumuri racun insektisida pada 28 Juni 2020 di perkebunan warga di Kecamatan Trumon, Aceh Selatan.[ii]
Bagian 1. Benarkah Bahaya Nuklir Ancaman Laten?
Legacy of Chernobyl
Tanggal 26 April 1986 mendapat tempat tersendiri dalam catatan sejarah dunia akibat tragedi meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Chernobyl, Ukraina. Bencana Chernobyl disebut sebagai bencana nuklir terbesar di dunia, setelah dalam rentang lima tahun sebelumnya (1979) terjadi bencana nuklir Three Mile Island di Amerika Serikat.[1]
Bencana Chernobyl mengakibatkan hampir 8,4 juta orang di tiga negara, yaitu Belarus, Rusia dan Ukraina terpapar radiasi nuklir.[2] Diperkirakan sekitar 4.000 orang meninggal akibat radiasi akut dan kanker. Namun yang tersisa dari Bencana Chernobyl adalah banyaknya yang menderita akibat kemiskinan berkepanjangan, maupun kurangnya informasi tentang cara adaptasi hidup di daerah terkontaminasi[3]
Tanggal 22 April merupakan momen penting yang diperingati sebagai hari bumi. Momen ini sudah seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh elemen masyarakat dunia untuk menillik kembali kerja bersama dalam menurunkan risiko akibat krisis iklim.
Sebagai Negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengurangi emisi karbon. Terkenal sebagai Negara yang memiliki hamparan hutan yang luas, Indonesia terlibat dalam perjanjian REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dan mendapat kucuran dana dari komitmen tersebut. Memiliki predikat sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai 99.093 kilometer, potensi laut untuk mitigasi perubahan iklim perlu mendapat perhatian lebih.