Kamis, 11 Desember 2025, Pusat Studi Lingkungan Hidup mengadakan Webinar Urun Rembug Manusia dan Lingkungan dengan tema “Ancaman Krisis Ekologi di Sebayang Pembangunan” yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Gedung Sugeng Martopo dan melalui Zoom Meeting serta live streaming Youtube.
Seminar dilaksanakan dalam dua sesi, Mendatangkan narasumber yang ahli di bidang Lingkungan dan sumber daya alam yaitu Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si selaku Kepala PSLH UGM periode 2024-2025, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, M.T selaku Guru Besar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Yogyakarta, Prof. Hitoshi Ushijima, Ph.D selaku Guru Besar Chuo University Tokyo Japan dan Dr. Suharman, M.Si selaku Ahli Senior AMDAL PSLH UGM, acara Webinar tersebut dimulai sejak pukul 13.00 WIB dan berlangsung selama kurang lebih 3 jam yang di moderatori oleh Dr. Wahyu Yun Santoso, S.H., M.Hum., LL.M..
Topik yang tengah hangat saat ini menjadi pintu gerbang utama yang membuka diskusi pembicaraan yaitu mengenai ancaman bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah yang disebabkan oleh beberapa factor alam dan manusia. Bencana yang marak terjadi saat ini adalah banjir yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan berdampak luas bagi wilayah dan masyarakat.
Webinar diawaliengan menyampaikan pembukaan oleh moderator, kemudian memberikan sambutan kepada narasumber yang hadir. Pemaparan materi diawali oleh Prof. Djati beliau memaparkanpakah ancaman bencana hidrometeorologis disebabkan antara fenomena alamiah atau ulah manusia? Kemudian beliau menyampaikan bahwa bencana seringkali terjadi karena respon kurang memadai sehingga penanganan terhadap bencana kurang dipersiapkan sejak awal, padahal jenis bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometerorologis.
Bencana Hidrometerorologis merupakan istilah yang mengacu pada bencana alam yang disebabkan oleh fenomena atmosfer dan hidrologi seperti curah hujan ekstrem, angin kencang, kekeringan, badai, atau gelombang pasang, yang meliputi kejadian seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, dan kebakaran hutan. Hal ini seringkali diperparah oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia, serta memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan dan lingkungan. Prof. Djati menyampaikan jika kondisi hutan masih lestari, mungkin bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan genangan mungkin tetap terjadi, tetapi intensitasnya tidak separah sebagaimana yang terjadi saat ini di Sumatera.
Kemudian ilanjut oleh Prof. Eko beliau menyampaikan tema mengenai “Diskursus Penanganan Darurat dan Pemulihan Bencana Banjir Sumatera: Kritik dan Tawaran Roadmap Berbasis Pengelolaan Risiko Bancana Berbasis Komunitas.(PRBBK)”. Prof. Eko menjelaskan bahwa bencana banjir dan longsor merupakan bencana kemanusiaan yang berdampak luas. Hal ini merupakan bukti bahwa sistem kita belum mampu melindungi warga. Banjir dipicu hujan ekstrem yang diperparah dengan adanya deforestasi masif dan kerusakan DAS.

Prof. Eko menyatakan bahwa beberapa penyebab lambatnya penanganan bencana alam antara lain adalah adanya jebakan penanganan konvensional, penanganan sentralistik yang mengabaikan kearifan lokal dalam respon darurat, serta pendekatan sektoral, di mana pembangunan fisik tidak terintegrasi dengan pemulihan ekologi. Selain itu, terdapat perbedaan pandangan antara objek dan subjek, di mana korban hanya dianggap sebagai penerima bantuan, bukan sebagai pelaku pemulihan. Kita sering kali membangun kembali kerentanannya (rebuilding risk) karena tidak melibatkan mereka yang paling mengetahui karakteristik wilayah tersebut. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu status bencana, karena itu lebih berkaitan dengan tingkat koordinasi. Yang lebih penting adalah dukungan nasional. Terkait dengan siklon atau hujan dengan intensitas tinggi, perlu dicatat bahwa datangnya siklon ini tidak mendadak, melainkan sudah ada peringatan sebelumnya.
Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Prof. Hitoshi. Beliau menyampaikan materi tentang Keberlanjutan Lingkungan, yang mencakup beberapa permasalahan lingkungan, antara lain hubungan antara lingkungan dengan lingkungan, lingkungan dengan hak asasi manusia, serta lingkungan dengan pemerintah. Jepang telah banyak menggunakan pembangkit Listrik energi terbarukan sebagai upaya untuk mengatasi perubahan iklim.
Disesi akhir Dr. Suharman menyampaikan materi mengenai “AMDAL dan Integrasi Perizinan Berusaha Berbasis Risiko: Kritisi dan Peluang Optimalisasi”. Dr. Suharman mengatakan bahwa permaslahan utama persetujuan lingkungan dalam perizinan berbasis risiko yaitu ketidakseimbangan antara penyederhanaan izin dan perlindungan lingkungan; risiko implementasi yang permisif; kurangnya jaminan teknis dan partisipasi publik yang memadai; potensi konflik sosial akibat praktik penyimpangan yang merusak ekosistem.
Acara webinar berjalan dengan menarik dan interaktif, beberapa peserta yang hadir juga ikut serta memberikan pertanyaan dan masukan terkait materi yang disampaikan oleh masing-masing narasumber. Webinar Uurn Rembug kali ini mengangkat tema yang berjudul “Ancaman Krisis Ekologi di Sebayang Pembangunan” sebagai media pengayaan kepada khalayak berkaitan dengan SDGs ke-4, yaitu ‘Pendidikan Bermutu”, SDGs ke-6, yaitu “Akses Air Bersih dan Sanitasi”, SDGs ke-13 yaitu “Penanganan Perubahan Iklim”, dan SDGs ke-15 yaitu “ Menjaga Ekosistem Darat”,
Hastag:
SDGs
Pendidikan Bermutu
Akses Air Bersih dan Sanitasi
Penanganan Perubahan Iklim
Menjaga Ekosistem Darat